MAKALAH
EKOLOGI
HEWAN
Habitat
dan Relung Ekologi
Oleh:
Kelompok II
1.
Fathul Ikhwan (190104022)
2.
Sudianto (190104013)
3.
Hana
Muliati (190104006)
JURUSAN
PENDIDIKAN IPA BIOLOGI
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN (FTK)
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI (UIN)
MATARAM
2022
BAB I
PENDAHULUAN
Habitat adalah istilah
yang banyak digunakan dalam Ekologi dan merujuk pada tempat di mana spesies
tertentu hidup dan berkembang. Ini merupakan lingkungan yang menguntungkan bagi
suatu spesies untuk dapat memberi makan dan bereproduksi.
Setiap spesies hidup di
habitat tertentu. Menurut proyek Tamar, penyu hijau, misalnya, memiliki
perairan pantai dengan banyak vegetasi, pulau atau teluk sebagai habitatnya.
Ini berarti bahwa di sinilah penyu hijau memperoleh kondisi yang tepat untuk
bertahan hidup.
Habitat adalah tempat
fisik di mana komunitas organisme tertentu hidup, baik itu hewan, jamur,
tumbuhan atau bahkan mikroorganisme (mikrohabitat). Istilah mikro habitat
sering digunakan untuk menggambarkan persyaratan fisik skala kecil dari suatu
organisme atau populasi tertentu. Mikro habitat seringkali merupakan habitat
yang lebih kecil di dalam habitat yang lebih besar.
1. Apa
yang dimaksud dengan habitat dan mikrohabitat?
2. Bagaimana
relung ekologi?
3. Apa
yang dimaksud asas eksklusi persaingan dan pemisahan relung?
4. Bagaimana
ekivalen ekologi?
1. Untuk
mengetahui habitat dan mikrohabitat
2. Untuk
mengetahui relung ekologi
3. Untuk
mengetahui asas eksklusi persaingan dan pemisahan relung
4. Untuk
mengetahui ekivalen ekologi
BAB II
PEMBAHASAN
1. Habitat
Habitat
dalam arti yang sederhana adalah tempat organisme menetap. Habitat adalah area
yang memiliki sumber daya dan kondisi bagi organisme untuk bertahan hidup dan
bereproduksi. Habitat bukan hanya sekedar vegetasi atau
struktur vegetasi tapi merupakan jumlah sumber daya spesifik yang dibutuhkan
organisme. Sumber daya ini termasuk makanan, perlindungan, air, dan faktor khusus
lainnya yang dibutuhkan oleh suatu spesies untuk bertahan hidup dan
bereproduksi. Jadi dapat dikatakan bahwa tempat yang menyediakan sumber daya
bagi organisme untuk bertahan hidup disebut habitat. Bahkan daerah migrasi dan
koridor penyebaran serta wilayah yang dikuasai organisme saat musim kawin juga
dikatakan sebagai habitat.
Habitat dapat dikatakan
sebagai gambaran lingkungan fisik dalam ruang dan waktu yang ditempati atau
berpotensi sebagai tempat tinggal organisme. Kawasan fisik (abiotik) dan karakteristik
biologi (biotik) yang berada di sekitar organisme dan memiliki potensi
berinteraksi dengan organisme dikenal dengan sebutan lingkungan (environment).
Habitat inilah yang menghubungkan kehadiran spesies, populasi, atau individu
(hewan atau tumbuhan) dengan lingkungannya.
Habitat digunakan oleh
organisme dengan memanfaatkan sumber daya fisik (abiotik) dan biologi (biotik).
Habitat digunakan sebagai daerah jelajah, perlindungan, sarang, daerah larian,
atau kegiatan hidup lainnya. Pengkategorian pemanfaatan habitat (seperti daerah
larian dan daerah jelajah) membagi habitat ke dalam beberapa area sehingga
beberapa di antaranya terjadi tumpang tindih pemanfaatan. Organisme dapat
melakukan seleksi terhadap suatu habitat untuk ditempati. Seleksi habitat
adalah proses atau perilaku yang digunakan organisme untuk memilih habitat yang
sesuai untuk menunjang kehidupannya. Suatu habitat diseleksi oleh organisme
berdasarkan ketersediaan tempat berlindung, kualitas dan kuantitas vegetasi,
daerah peristirahatan, daerah pemangsaan, serta daerah pemeliharaan anak.
Kesuksesan reproduksi dan kelangsungan hidup spesies adalah alasan utama yang
mempengaruhi suatu spesies untuk memilih habitat.
Interaksi organisme juga
mempengaruhi suatu organisme dalam memilih habitat seperti kompetisi dan
predasi. Kompetisi dapat menyebabkan organisme tidak memilih suatu habitat
karena adanya keterbatasan sumber daya. atau dapat menyebabkan terjadinya
distribusi spasial organisme dalam habitat. Adanya predator juga dapat mencegah
suatu organisme menduduki suatu area. Kelangsungan hidup spesies dan
keberhasilan reproduksinya di masa depan adalah kekuatan pendorong yang mungkin
menyebabkan organisme mengevaluasi faktorfaktor biotik ini. Kompetisi dan
predator dapat menyebabkan organisme memilih daerah berbeda dengan sumber daya
yang kurang optimal.
Secara garis besar dikenal empat tipe habitat utama, yakni: daratan,perairan
tawar, perairan payau dan estuaria serta perairan bahari/laut. Masing-masing
kategori utama dapat dipilih-pilihkan lagi tergantung corak
kepentingannya mengenai aspek yang ingin di ketahui. Dari sudut pandang dan
kepentingan populasi-populasi hewan yang menempatinya, pemilihan tipe-tipe
habitat itu terutama didasarkan pada segi variasinya menurut waktu dan ruang.
Berdasarkan
variasi habitat menurut ruang,dapat dikenal4 macam habitat.
a.
Habitat
yang konstan, yaitu suatu habitat yang kondisinya terus-menerus relatip baik
atau kurang baik.
b. Habitat yang bersifat memusim,yaitu suatu habitat yang
kondisinya secara relative teratur berganti-ganti antara baik dan kurang baik.
c. Habitat yang tidak menentu,yaitu suatu habitat yang
mengalami suatu priode dengan kondisi baik yang lamanya bervariasi, sehingga
kondisinya tidak dapat diramalkan.
d. Habitat yang efemeral,yaitu suatu habitat yang mengalami
priode kondisi baik yang berlangsung relative singkat,diikuti oleh
suatu priode dengan kondisi yang kurang baik yang berlangsung relative lama
sekali.
Berdasarkan variasi kondisi
habitatmenurut ruang,habitat dapat diklasifikasi menjadi tiga macam.
a.
Habitat
yang bersinambung, yaitu apabila suatu habitat bengandung area
dengan kondisi baik yang luas sekali,yang melebihi luas area yang dapat di
jelajahi populasi hewan pengaruhinya .Sehingga contoh yang luas
sebagai habitat dari populasi rusa yang berjumlah 10 ekor.
b.
Habitat
yang berputus-putus, merupakan suatu habitat
yang mengandung area dengan kondisi baik letaknya
berselang-seling dengan area yang berkondisi kurang baik, hewan penghuninya
dengan mudah dapat menyebar dari area berkondisi baik yang satu ke yang
lainnya.
c.
Habitat
yang terisolasi, merupakan suatu habitat yang mengandung area terkondisi baik
yang terbatas luasnya dan letaknya terpisah jauh dariarea berkondisi baik yang
lain, sehingga hewan-hewan tidak dapat menyebar untuk mencapainya, kecuali bila
didukung oleh faktor-faktor kebetulan. Misal suatu pulau kecil yang di huni
oleh populasi rusa. Jika makanan habis rusa tersebut tidak dapat berpindah ke
pulau lain. Pulau kecil tersebut merupakan bukan habitat terisolasi bagi suatu
populasi burung yang dapat dengan mudah pindah ke pulau lainnya, tetapi lebih
cocok disebut habitat yang terputus.
2. Mikrohabitat
Habitat-habitat di alam
ini umumnya bersifat heterogen, dengan area-area tertentu dalam habitat itu
yang berbeda vegetasinya. Populasi-populasi hewan yang mendiami habitat itu
akan terkonsentrasi ditempat-tempat dengan kondisi yang paling cocok bagi
pemenuhan persyaratan hidupnya masing-masing. Bagian
dari habitat yang merupakan lingkungan yang kondisinya paling cocok dan
paling akrab berhubungan dengan hewan dinamakan mikrohabitat. Sehubungan
dengan bagaimana kisaran-kisaran toleransinya terhadap berbagai faktor
lingkungannya, maka berbagaispesies hewan yang berkonsentrasi dalam habitat
yang sama (= berkohabitasi) akan menempati mikrohabitatnya masing-masing.
Contoh mikrohabitat,
yaitu organisme penghancur (pembusuk) daun hanya hidup pada lingkungan sel-sel
daun lapisan atas fotosintesis. Sedangkan spesies organisme penghancur lainnya
hidup pada sel-sel daun bawah pada lembar daun yang sama hingga mereka hidup
bebas tidak saling mengganggu. Lingkungan sel-sel dalam selembar daun di atas
disebut mikrohabitat.
Habitat dalam batas tertentu sesuai dengan persyaratan makhluk hidup yang
menghuninya. Batas bawah persyaratan hidup itu disebut titik minimum dan batas
atas disebut titik maksimum. Antara dua kisaran itu terdapat titik optimum.
Ketiga titik itu yaitu titik minimum, titik maksimum dan titik optimum disebut
titik cardinal.
Apabila sifat habitat berubah sampai diluar titik minimum atau maksimum,
makhluk hidup itu akan mati atau harus pindah ke tempat lain. Misalnya jika
terjadi arus terus-menerus di pantai habitat bakau, dapat dipastikan bakau
tersebut tidak akan bertahan hidup. Apabila perubahannya lambat, misalnya
terjadi selama beberapa generasi, makhluk hidup umumnya dapat menyesuaikan diri
dengan kondisi baru di luar batas semula. Melalui proses adaptasi itu
sebenarnya telah terbentuk makhluk hidup yang mempunyai sifat lain yang disebut
varietas baru atau ras baru bahkan dapat terbentuk jenis baru.
Batas
antara mikrohabitat yang satu dengan yang lainnya acapkali tidak nyata/jelas.
Namun demikian mikrohabitat memegang peranan penting dalam
menentukan keanekaragaman spesies yang menempati habitat itu. Tiap spesies akan
berkonsentrasi pada mikrohabitat yang paling sesuai baginya. Sebagai contoh,
dalam suatu habitat perairan tawar yang mengalir (sungai) secara umum dapat
dibedakan menjadi bagian riam dan lubuk. Riam berarus deras dan dasarnya
berbatu-batu sedang lubuk hampir tidak berarus, relatif dalam dan dasarnya
berupa lumpur dan serasah. Ada beberapa populasi hewan air yang lebih menyukai
tinggal atau bermikrohabitat di riam dan ada beberapa populasi yang lebih
menyukai tinggal atau bermikrohabitat di lubuk. Pemilihan atas dasar
mikrohabitat utama ini dapat dipilah-pilah lagi lebih lanjut, seperti bagian
permukaan batu, di sel-sela batu, di bawah lapisan serasah dan sebagainya.
Pemilihan atas dasar mikrohabitat-mikrohabitat yang berbeda itu terkait dengan
masalah perbedaan status fungsional atau relung ekologi dari berbagai spesies
hewan yang manempati habitat perairan tersebut.
Secara umum dapat
dikatakan bahwa relung ekologi merupakan suatu konsep
abstrak mengenai keseluruhan persyaratan hidup dan interaksi organisme dalam
habitatnya. Dalam hal ini habitat merupakan penyedia berbagai koondisi dan
sumberdaya yang dapat digunakan oleh organisme sesuai dengan persyaratan
hidupnya.
Konsep relung (niche)
dikembangkan oleh Charles Elton (1927) ilmuwan Inggris, dengan pengertian
relung adalah “status fungsional suatu organisme dalam komunitas tertentu”.
Dalam penelaahan suatu organisme, kita harus mengetahui kegiatannya, terutama
mengenai sumber nutrisi dan energi, kecepatan metabolisme dan tumbuhnya,
pengaruh terhadap organisme lain bila berdampingan atau bersentuhan, dan sampai
seberapa jauh organisme yang kita selidiki itu mempengaruhi atau mampu mengubah
berbagai proses dalam ekosistem.
Relung menurut Resosoedarmo (1992) adalah profesi (status suatu organisme)
dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu yang merupakan akibat adaptasi
struktural, fungsional serta perilaku spesifik organisme itu. Berdasarkan
uraian diatas relung ekologi merupakan istilah lebih inklusif yang meliputi
tidak saja ruang secara fisik yang didiami oleh suatu makhluk, tetapi juga
peranan fungsional dalam komunitas serta kedudukan makhluk itu di dalam kondisi
lingkungan yang berbeda (Odum, 1993). Relung ekologi merupakan gabungan khusus
antara faktor fisik (mikrohabitat) dan kaitan biotik (peranan) yang diperlukan
oleh suatu jenis untuk aktivitas hidup dan eksistensi yang berkesinambungan
dalam komunitas (Soetjipto, 1992).
Niche (relung) ekologi mencakup ruang fisik yang diduduki organisme ,
peranan fungsionalnya di dalam masyarakatnya (misal: posisi trofik) serta
posisinya dalam kondisi lingkungan tempat tinggalnya dan keadaan lain dari
keberadaannya itu. Ketiga aspek relung ekologi itu dapat dikatakan sebagai
relung atau ruangan habitat, relung trofik dan relung multidimensi atau
hypervolume. Oleh karena itu relung ekologi sesuatu organisme tidak hanya
tergantung pada dimana dia hidup tetapi juga apa yang dia perbuat (bagaimana
dia merubah energi, bersikap atau berkelakuan, tanggap terhadap dan mengubah lingkungan
fisik serta abiotiknya), dan bagaimana jenis lain menjadi kendala baginya.
Hutchinson (1957) telah membedakan antara niche pokok (fundamental niche)
dengan niche yang sesungguhnya (relized niche). Niche pokok didefinisikan
sebagai sekelompok kondisi-kondisi fisik yang memungkinkan populasi masih dapat
hidup. Sedangkan niche sesungguhnya didefinisikan sebagai sekelompok
kondisi-kondisi fisik yang ditempati oleh organisme-organisme tertentu secara
bersamaan.
Sebagaimana definisi-definisi pada umumnya, definisi relung ekologi (niche)
pun juga bermacam-macam. Menurut Kandeigh (1980), relung ekologi adalah
suatu populasi/spesies hewan adalah status fungsional hewan itu dalam habitat
yang ditempatinya berkaitan dengan adaptasi-adaptasi fisiologis, struktural/morfologi,
dan pola perilaku hewan itu. Atau relung ekologi merupakan posisi atau status
suatu organisme dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu yang merupakan
akibat adaptasi struktural, tanggap fisiologis serta perilaku spesifik
organisme itu. Jadi relung suatu organisme bukan hanya ditentukan oleh tempat
organisme itu hidup, tetapi juga oleh berbagai fungsi yang dimilikinya. Dapat
dikatakan, bahwa secara biologis, relung adalah profesi atau cara hidup
organisme dalam lingkungan hidupnya.
Setiap kisaran toleransi hewan terhadap suatu faktor lingkungan, misalnya
suhu merupakan suatu dimensi. Dalam kehidupannya hewan dipengaruhi oleh bukan
hanya satu faktor lingkungan saja, melainkan bannyak faktor lingkungan secara
simultan. Faktor ligkungan yang mempengaruhi atau membatasi kehidupan organisme
bukan hanya kondisi lingkungan seperti suhu, cahaya, kelembapan, salinitas
tetapi juga ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan hewan (makanan dan tempat
untuk membuat sarang bagi hewan).
Selanjutnya Hutchinson membagi konsep relung menjadi relung fundamental dan
relung yang terealisasi. Relung fundamental menunjukkan
potensi secara utuh kisaran toleransi hewan terhadap berbagai faktor
lingkungan, yang hanya dapat diamati dalam laboratorium dengan kondisi lingkungan
gterkendali. Misalnya yang diamati hanya satu atau dua faktor saja, tanpa ada
pesaing, predator dan lain sebagainya. Relung terealisasi adalah status
fungsional yang benar-benar ditempati dalam kondisi alami, dengan beroperasinya
banyak faktor lingkungan seperti interaksi faktor, kehadiran pesaing, predator
dan lain sebagainya. Dibandingkan dengan kisaran relung fundamental, kisaran
dari relung yang terealisasikan itu pada umumnya lebih sempit, karena tidak
seluruhnya dari potensi hewan dapat diwujudkan, tentunya karena pengaruh dari
beroprasinya berbagai kendala dari lingkungan.
Dimensi-dimensi pada niche pokok menentukan kondisi-kondisi yang
menyebabkan organisme-organisme dapat berinteraksi tetapi tidak menentukan
bentuk, kekuatan atau arah interaksi. Dua faktor utama yang menetukan bentuk
interaksi dalam populasi adalah kebutuhan fisiologis tiap-tiap individu dan
ukuran relatifnya. Empat tipe pokok dari interaksi diantara populasi sudah
diketahui yaitu: kompetisi, predasi, parasitisme dan simbiosis.
Agar terjadi interaksi antar organisme yang meliputi kompetisi, predasi,
parasitisme dan simbiosis harusnya ada tumpang tindih dalam niche. Pada kasus
simbion, satu atau semua partisipan mengubah lingkungan dengan cara membuat
kondisi dalam kisaran kritis dari kisaran-kisaran kritis partisipan yang lain.
Untuk kompetitor, predator dan mangsanya harus mempunyai kecocokan dengan
parameter niche agar terjadi interaksi antar organisme, sedikitnya selama waktu
interaksi.
Berjenis makhluk hidup dapat hidup bersama dalam satu habitat. Akan tetapi
apabila dua jenis makhluk hidup mempunyai relung yang sama, akan terjadi
persaingan. Makin besar tumpang tindih relung kedua jenis makhluk hidup, makin
intensif persaingannya. Dalam keadaan itu masing-masing jenis akan mempertinggi
efisiensi cara hidup atau profesinya.Masing-masing akan menjadi lebih
spesialis, yaitu relungnya menyempit. Jadi efek persaingan antar jenis adalah
menyempitnya relung jenis makhluk hidup yang bersaing, sehingga terjadi
spesialisasi.
Akan tetapi bila populasi semakin meningkat, maka persaingan antar individu
di dalam jenis tersebut akan terjadi pula. Dalam persaingan ini individu yang
lemah akan terdesak ke bagian niche yang marginal. Sebagai efeknya ialah
melebarnya relung, dan jenis tersebut akan menjadi lebih generalis. Ini berarti
jenis tersebut semakin lemah atau kuat. Makin spesialis suatu jenis semakin
rentan makhluk tersebut.
Makin spesialistis suatu jenis, makin rentan populasinya misalnya wereng
yang monofag dan hidup dari tanaman padi, populasinya kecil setelah masa panen
dan memesar lagi setelah sawah ditanami dengan padi. Populasi yang kecil
setelah panen menanggung resiko kepunahan. Sebaliknya jenis makhluk yang
generalis, populasinya tidak banyak berfluktuasi, ia dapat berpindah dari jenis
makanan yang satu ke jenis makanan yang lain. Pada manusia kita dapatkan hal
yang serupa. Bangsa yang makanan pokoknya hanya beras, hidupnya amat rentan ,
apabila produksi beras menurun misalnya karena iklim yang buruk, kehidupannya
mengalami kegoncangan.
Pengetahuan tentang relung suatu organisme sangat perlu sebagai landasan
untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama.
Untuk dapat membedakan relung suatu organisme, maka perlu diketahui tentang
kepadatan populasi, metabolisme secara kolektif, pengaruh faktor abiotik
terhadap organisme, pengaruh organisme yang satu terhadap yang lainnya.
Banyak, organisme, khususnya hewan yang mempunyai tahap-tahap perkembangan
hidup yang nyata, secara beruntun menduduki relung yang berbeda. Umpamanya
jentik-jentik nyamuk hidup dalam habitat perairan dangkal, sedangkan yang sudah
dewasa menempati habitat dan relung yang samasekali berbeda. Relung atau niche
burung adalah pemakan buah atau biji, pemakan ulat atau semut, pemakan ikan atau
kodok.
Niche ada yang bersifat umum dan spesifik. Misalnya ayam termasuk mempunyai
niche yang umum karena dapat memakan cacing, padi, daging, ikan, rumput dan
lainnya. Ayam merupakan polifag, yang berarti makan banyak jenis. Makan
beberapa jenis disebut oligofag, hanya makan satu jenis
disebut monofag seperti wereng, hanya makan padi.
Apabila terdapat dua hewan atau lebih mempunyai niche yang sama dalam satu
habitat yang sama maka akan terjadi persaingan. Dalam persaingan yang ketat,
masing-masing jenis mempertinggi efisiensi cara hidup, dan masing-masing akan
menjadi lebih spesialis yaitu relungnya menyempit.
Hutchinson (dalam Odum,1993) membedakan antara relung dasar (Fundamental
Niche) dengan relung nyata (Realized Niche). Relung dasar didefinisikan sebagai
sekelompok kondisi-kondisi fisik yang memungkinkan populasi masih dapat hidup,
tanpa kehadiran pesaing, relung nyata didefinisikan sebagai kondisi-kondisi
fisik yang ditempati oleh organisme-organisme tertentu secara bersamaan
sehingga terjadi kompetisi. Keterbatasan suatu organisme pada suatu relung
tergantung pada adaptasinya terhadap kondisi lingkungan tersebut.
Relung dasar (Fundamental Niche) tidak dapat dengan mudah ditentukan karena
dalam suatu komunitas persaingan merupakan proses yang dinamis dan kondisi
fisik lingkungan yang beragam mempengaruhi kehidupan suatu organisme. Mc Arthur
(1968) dalam Soetjipta (1992) menyarankan penelitian tentang perbedaan antara
relung ekologi dibatasi dalam satu atau dua dimensi saja seperti hanya diamati
perbedaan relung makan saja atau perbedaan relung aktivitas saja.
Jenis-jenis
populasi yang berkerabat dekat akan memiliki kepentingan serupa pada
dimensi-dimensi relung sehingga mempunyai relung yang saling tumpang tindih.
Jika relung suatu jenis bertumpang tindih sepenuhnya dengan jenis lain maka
salah satu jenis akan tersingkir sesuai dengan prinsip penyingkiran kompetitif.
Jika relung-relung itu bertumpang tindih maka salah satu jenis sepenuhnya
menduduki relung dasarnya sendiri dan menyingkirkan jenis kedua dari bagian
relung dasar tersebut dan membiarkannya menduduki relung nyata yang lebih kecil, atau kedua jenis itu mempunyai relung nyata yang terbatas dan masing-masing
memanfaatkan kisaran yang lebih kecil dari dimensi relung yang dapat mereka
peroleh seandainya tidak ada jenis lain.
C. Asas Eksklusi Persaingan Dan
Pemisahan Relung
Dengan adanya interaksi
persaingan antara dua spesies atau lebih yang memiliki relung ekologi yang
sangat mirip maka mungkin saja spesies-spesies tersebut tidak berkonsistensi
dalam habitat yang sama secara terus-menerus. Hal ini menunjukkan bahwa suatu relung ekologi tidak dapat ditempati secara simultan
dan sempurna oleh populasi stabil lebih dari satu spesies. Pernyataan ini
dikenal sebagai “Asas Eksklusi Persaingan” atau “Aturan Gause”.
Sehubungan dengan asas
tersebut di atas, menurut asas koeksistensi, beberapa spesies yang dapat hidup
secara langgeng dalam habitat yang sama ialah spesies-spesies yang relung
ekologinya berbeda-beda. Tentang pentingnya perbedaan-perbedaan diantara
berbagai spesies telah lama dikemukakan oleh Darwin (1859). Darwin menyatakan
ahwa makin besar perbedaan-perbedaan yang diperlihatkan oleh berbagai spesies
yang hidup di suatu tempat, makin besar pula jumlah spesies yang dapat hidup di
suatu tempat itu. Pernyataan Darwin tersebut dikenal sebagai “Asas Divergensi”.
Dari uraian tersebut di
atas tampak bahwa aspek relung ekologi yang menyangkut dimensi sumberdaya,
khususnya yang vital untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, dari beberapa
spesies harus berbeda (terpisah) agar dapat berkoeksistensi dalam habitat yang
sama. Perbedaan atau pemisahan relung itu juga mencakup aspek waktu aktif.
Contoh dari kasus
pemisahan relung antara berbagai spesies yang berkohabitasi dapat dilihat dari
contoh berikut ini. Serumpun padi dapat menjadi sumberdaya berbagai jenis
spesies hewan. Orong-orong (Gryllotalpa africana) memakan akarnya,
walang sangit (Leptocorisa acuta) memakan buahnya, ulat tentara kelabu (Spodoptera
maurita) yang memakan daunnya, ulat penggerek batang (Chilo supressalis)
yang menyerang batangnya, hama ganjur (Pachydiplosis oryzae) menyerang
pucuknya, wereng coklat (Nilaparvata lugens) dan wereng hijau (Nephotettix
apicalis) yang menghisap cairan batangnya. Tiap jenis hama tersebut
masing-masing telah teradaptasi khusus untuk memanfaatkan tanaman padi sebagai
sumberdaya makanan pada bagian-bagian yang berbeda-beda.
Jika memperhatikan
tentang kehidupan berbagai jenis hewan di berbagai tempat sering ditemukan spesies-spesies
hewan serupa yang hidup di daerah geografi yang berbeda. Kita dapat menemukan
cacing tanah di mana saja, misal di Indonesia, di Amerika, di Eropa, di
Australia dan tempat lainnya. Cacing-cacing tanah tersebut secara morfologi
serupa, namun sebenarnya mereka berbeda spesies. Cacing tanah di jawa (Pheretima
javanica) serupa dengan cacing tanah di Amerika (Lumbricus terestris).
Kedua jenis cacing tanah tersebut menempati habitat tanah lembab dengan relung
ekologi yang serupa. Jenis-jenis hewan yang menempati
relung ekologi yang sama (ekivalen) dalam habitat yang serupa di daerah
zoogeografi yang berbeda disebut Ekivalen Ekologi.
Secara umum
ekivalen-ekivalen ekologi itu dikenali dari kemiripan kemiripan yang
diperlihatkan hewan-hewan tersebut dalam hal adaptasi morfologis serta pola
perilakunya. Sebabnya, ialah karena berbagai adaptasi itu adalah tiada lain
daripada perangkat “modal” kemampuan hewan untuk memanfaatkan
sumberdaya-sumberdaya di dalam lingkungannya atau habitatnya.
BAB III
PENUTUP
Habitat dalam arti yang
sederhana adalah tempat organisme menetap. Habitat adalah area yang memiliki
sumber daya dan kondisi bagi organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Bagian
dari habitat yang merupakan lingkungan yang kondisinya paling cocok dan
paling akrab berhubungan dengan hewan dinamakan mikrohabitat.
Relung ekologi merupakan
suatu konsep abstrak mengenai keseluruhan persyaratan hidup dan interaksi
organisme dalam habitatnya. Dalam hal ini habitat merupakan penyedia berbagai koondisi
dan sumberdaya yang dapat digunakan oleh organisme sesuai dengan persyaratan
hidupnya.
Suatu relung ekologi
tidak dapat ditempati secara simultan dan sempurna oleh populasi stabil lebih
dari satu spesies. Pernyataan ini dikenal sebagai “Asas Eksklusi Persaingan”
atau “Aturan Gause”.
Jenis-jenis hewan yang
menempati relung ekologi yang sama (ekivalen) dalam habitat yang serupa di
daerah zoogeografi yang berbeda disebut Ekivalen Ekologi.
DAFTAR PUSTAKA
Darmawan,Agus.
2005. Ekologi Hewan. Malang: Universitas Negeri Malang
Kramadibrata,
H. 1996. Ekologi Hewan. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Press.
Odum,
Eugene P. 1971. Fundamentals of Ecology. Saunders College Publishing.
Wirakusumah,
Sambas. 2003. Dasar-Dasar Ekologi. Jakarta. Penerbit UI Press
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar