Laporan praktikum anatomi dan fisiologi manusia analisis urine


Laporan Tetap Praktikum

ANATOMI & FISIOLOGI MANUSIA

ACARA II

ANALISIS URINE

 

 


 

 

 

 

 

 

 


    OLEH              :

                                        NAMA                           : SUDIANTO

                                        NIM                                : 190104013

SEMESTER/KELAS   : VI/A

 

 

 

LABORATORIUM TADRIS IPA BIOLOGI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN (FTK)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MATARAM

2022


 

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Tetap Praktikum “Anatomi Fisiologi Manusia Acara II” Ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti Praktikum Selanjutnya.

 

 

 

                                                                                  Mataram,       April  2022

 

 

Disahkan Oleh:

 

 

                                                                                               

Co. Assisten

 

 

(Hadiatussolihah)

NIM: 180104023

 


 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan khadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat, nikmat serta hidayahn-Nya yang sangat besar sehingga penulis pada akhirnya dapat menyelesaikan aktivitas dengan baik dalam pembuatan “Laporan Tetap Praktikum Anatomi & Fisiologi Manusia” ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Tak lupa pula Sholawat serta salam somoga selalu tercurahkan atas kehadirat junjungan alam Nabi besar kita, yakni Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiah yakni addinul islam seperti sekarang ini.

Ucapan terima kasih, tidak lupa penulis sampaikan kepada dosen dan kakak-kakak pembimbing yang telah membantu penulis dalam kegiatan praktikum. Dengan demikian laporan ini bisa terselesaikan. Dengan terselesaikannya laporan praktikum ini, praktikan berharap kakak pembimbing bisa mengukur sejauh mana pengetahuan dan kemampuan praktikan dalam melakukan kegiatan praktikum ini. Kedepannya penulis berharap bisa dibimbing lebih baik lagi agar bisa membuat laporan yang lebih baik dari sekarang.

 

 

 

 

Mataram, April 2020

 

      Penyusun


 

DAFTAR ISI

 

COVER.. i

HALAMAN PENGESAHAN.. ii

KATA PENGANTAR.. iii

DAFTAR ISI. iv

BAB I PENDAHULUAN.. 1

A.   Latar Belakang. 1

B.    Rumusan Masalah. 1

C.   Tujuan. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. 2

BAB III METODOLOGI. 4

A.   Pelaksanaan. 4

B.    Alat dan Bahan. 4

C.   Cara Kerja. 4

BAB IV PEMBAHASAN.. 5

A.   Hasil Pengamatan. 5

B.    Analisis Prosedur. 6

C.   Pembahasan. 6

D.   Evaluasi 9

BAB V PENUTUP.. 10

A.   Kesimpulan. 10

B.    Saran. 10

DAFTAR PUSTAKA.. 11

LAMPIRAN.. 12

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Ginjal merupakan alat ekskresi utama pada tubuh manusia. Fungsi ginjal tidak bisa digantikan oleh organ lain. Jika ginjal tidak dapat melakukan fungsinya, maka harus diganti oleh ginjal yang lain melalui transplantasi atau pencangkokan ginjal dari donor. Jika tidak melakukan pencangkokan, maka penderita harus melakukan dialisis (cuci darah) seumur hidupnya. Sebagai alat ekskresi, ginjal memiliki tugas untuk membersihkan atau menyaring darah, mengatur volume darah, alat pendaur ulang zat gizi, glukosa, air, dan mineral, mengatur kandungan kimia darah agar tetap seimbang dan menjaga tingkat keasaman darah.dan menghasilkan hormone.

Urin adalah cairan yang di ekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan di keluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Urin yang terbentuk bisa menjadi media untuk memantau penyakit melalui perubahan warnanya. Meskipun tidak selalu bisa dijadikan pedoman namun ada baiknya kita mengetahui hal ini untuk berjaga-jaga. Urinalisis adalah analisis urin secara invitro meliputi pemeriksaan makroskopis, mikroskopis/sedimentasi, dan kimia urin. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi diagnostik kemungkinan adanya gangguan pada ginjal, saluran kemih, serta gangguan metabolisme tubuh.

Pada praktikum ini dilakukan analisis pemeriksaan urin meliputi pemeriksaan protein, ph dan glukosa.  Untuk mengetahui kualitas urin dengan menggunakan sample urine maksimal 30 menit sebelum pengecekan sampel dengan menggunakan reagent strip analsiis urine.

B.       Rumusan Masalah

1.      Bagaimana perbandingan kualitas urine manusia sehat dan sakit?

2.      Bagaimana penyakit responden bersdasarkan komposisi urine?

C.      Tujuan

1.      Untuk membandingkan kualitas urine manusia sehat dan sakit

2.      Untuk menganalisis penyakit responden bedasarkan komposisi urine

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sistem ekskresi adalah proses pengeluaran zat–zat sisa metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. Zat ini dapat berupa karbon dioksida, urin, urea, keringat dan senyawa–senyawa lain yang bersifat toksik atau meracuni. Apabila toksin atau racun tersebut tidak segera dibuang, segala macam zat tersebut akan menumpuk di dalam tubuh dan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Untuk membuang racun-racun itu, ada sejumlah organ tubuh yang membantu ekskresi. Organ-organ tersebut antara lain: organ, yaitu paru-paru, kulit, hati, usus besar dan ginjal. Masing-masing organ ekskresi tersebut memiliki fungsi dan cara kerja yang berbeda untuk membuang zat sisa dan racun dari dalam tubuh (Dafriani, 2019: 79)

Ginjal adalah sepasang organ kecil yang terletak di punggung bawah pada manusia yang sangat penting untuk kehidupan. Ginjal ditemukan dalam kebanyakan jenis hewan dan memainkan peran penting dalam sistem urin hewan-hewan ini. Fungsi lain yang dilakukan berhubungan dengan homeostasis dalam organisme, keseimbangan elektrolit, dan tekanan darah. Pada manusia, setiap ginjal memiliki penampilan berbentuk kacang dengan sisi cembung dan cekung. Kulit luar dari organ ini disebut kapsul ginjal. (Basoeki, 2017: 107)

Urine adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial (Raimundus, 2016: 132).

Warna air kencing bervariasi dari jernih hingga kuning tua. Perbedaan warna ini disebabkan oleh pigmen (pewarna) urine yang disebut urokrom dan urobilin. Selain itu, warna urine juga dipengaruhi asupan cairan dan apa yang Anda konsumsi. Air kencing yang sehat berwarna jernih hingga kuning muda. Semakin banyak air yang diminum, semakin jernih pula warna urine yang terbentuk. Sebaliknya, kurang minum air putih akan membuat urine berwarna kuning pekat hingga oranye. Di luar rentang warna tersebut, urine juga dapat berubah warna menjadi merah, hijau, biru, hingga cokelat gelap (Siti, 2019: Vol 6. No. 1).

Pemeriksaan penyaringan atau pemeriksaan urin rutin ada beberapa macam pemeriksaan dianggap dasar bagi pemeriksaan diantaranya analisis makroskpik yang meliputi tes warna, kejernihan, bau, berat jenis, pH, kimia urine meliputi tes protein, glukosa, keton, bilirubin, urobilin, nitrit, mikroskopik meliputi pemeriksaan sedimen. Pemeriksaan urine dapat membantu menetapkan diagnose suatu penyakit, sehingga lebih memudahkan menetapkan terapi yang tepat. Selain itu sebagaimana pemeriksaan-pemeriksaan antara lain, pemeriksaan urin dapat pula dipakai untuk flow up suatu penyakit tertentu terutama penyakit-penyakit yang bersangkutan dengan alat ginjal. (Rifkatul, 2018: Vol 8, No 1)


 

BAB III

METODOLOGI

A.      Pelaksanaan

Hari/Tanggal : Kamis, 21 April 2022

Waktu            : 10.00 – selesai

Tempat          : Laboratorium Riset Tadris IPA Biologi

B.       Alat dan Bahan

1.      Alat

Reagent strip urine

2.      Bahan

Sample urine

C.      Cara Kerja

1.      Mengambil sampel urine menggunakan botol sampel

2.      Melakukan pemeriksaan makroskopis terhadap volume, bau, buih, warna dan kejernihan urine

3.      Mencelupkan reagen strip analisis ke urine dengan indicator ph dan protein selama satu menit dan glukosa selama 30 detik

4.      Mendiamkan selama 2 menit, kemudian menganalisis warna masing-masing indicator.


 

BAB IV

PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan

1.      Gambar Hasil Pengamatan

No.

Gambar

Keterangan

1.

 

 

 

Urine kelompok 1

2.

 

 

 

Urine kelompok 2

3.

 

 

 

Urine kelompok 3

4.

 

 

Urine kelompok 4

2.      Tabel hasil pengamatan

Pemeriksaan makroskopis

No.

Kelompok

Perbandingan

 

 

Warna

Buih

Protein

pH

Glukosa

1.

Kelompok 1

Jernih

Banyak

< 0,15

6

< 5

2.

Kelompok 2

Pekat

Tidak ada

< 0,15

6

< 5

3.

Kelompok 3

Pekat

sedikit

< 0,15

6

< 5

4.

Kelompok 4

Jernih

Banyak

< 0,15

6

< 5

B.       Analisis Prosedur

Pertama-tama mengambil sampel urin menggunakan botol urin. Kemudian melakukan pemeriksaan makroskopis terhadap volume, bau, buih, warna dan kejernihan urin. Berikutnya mencelupkan reagen strip analisis ke urine dengan indicator ph dan protein selama satu menit dan glukosa selama 30 detik. Terakhir, mendiamkan selama dua menit, lalu menganalisis warna masing-masing indicator.

C.      Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan warna dan buih. Warna urin kelompok satu lebih jernih dibandingkan kelompok dua, tiga dan empat. Buih urin dari kelompok satu lebih banyak dibandingkan kelompok dua, tiga dan empat. Warna urin kelompok dua lebih pekat dibandingkan warna urine kelompok satu, tiga dan empat. Tidak terdapat buih urine pada kelompok dua. Warna urin kelompok tiga lebih pekat dibandingkan kelompok satu dan empat, tetapi lebih jernih dibandingkan kelompok dua. Buih urin kelompok dua lebih sedikit diandingkan buih urin kelompok satu dan empat.

Pengamatan terhadap kadar protein, pH dan kadar glukosa menunjukkan warna yang sama pada semua sampel urine yang diuji dengan reagent strip urine, yaitu kadar protein yang kurang dari 0,15 mg, angka pH adalah 6, dan kadar glukosa kurang dari 6 mg. Berdasarkan analisis tersebut, sampel semua urin masih dalah keadaan normal.

Perbedaan warna urin dari masing-masing sampel menunjukkan kadar air yang berbeda dikonsumsi oleh responden. Semakin jernih sampel urine, maka semakin banyak air yang dikonsumsi oleh responden. Sebaliknya, semakin pekat urine, maka air yang dikonsumsi dalam jumlah sedikit. Sedangkan untuk jumlah buih yang berbeda dari masing-masing urine menunjukkan besarnya kadar protein dalam tubuh. Semakin besar kadar protein, maka jumlah buih suatu urin akan semakin banyak. Sebaliknya, semakin sedikit buih pada urine menunjukkan kadar protein yang juga sedikit.

Selain karena perbedaan konsumsi air, perbedaan warna urine juga dipengaruhi oleh zat-zat atau bahan-bahan makanan yang dikonsumsi. Beberapa jenis obat-obatan yang dikeluarkan melalui ginjal juga akan memberikan warna tertentu pada urine yang dikeluarkan. Kemudian perbedaan warna urine juga disebabkan oleh kondisi tubuh masing-masing orang. Warna urine dapat berubah sesuai dengan kondisi tubuh yang sedang dialami.

Warna urine yang dianggap normal adalah yang jernih kekuning-kuningan, atau yang berwarna putih jernih. Namun, warna yang demikian tidak selalu mengindikasikan tubuh seseorang dalam keadaan sehat. Begitu juga dengan warna urine yang pekat tidak selalu mengindikasikan bahwa kondisi tubuh sedang mengalami suatu penyakit. Sebab warna urine dipengaruhi oleh beragam faktor, tidak hanya karena adanya suatu penyakit.

Namun, perlu diperhatikan juga bahwa pengamatan makroskopis urine seperti warna, pH, bau, kejernihan, kadar protein dan glukosa bisa digunakan untuk mengindikasikan suatu penyakit tertentu dalam tubuh. Tapi pengamatan makroskopis hanya terbatas pada dugaan sementara dan kemungkinan hingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dengan ahlinya dan alat yang memadai sehingga hasil yang didapatkan akurat.

Pemeriksaan protein urine adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai jumlah protein yang terdapat dalam urine. Jika ternyata diketahui terdapat kelebihan protein dalam urine, hal ini dapat mengindikasikan penyakit tertentu, khususnya kelainan pada ginjal. Hasil tes mikroalbumin diukur sebagai miligram (mg) kebocoran protein selama 24 jam. Umumnya: Kurang dari 30 mg adalah normal. Tiga puluh hingga 300 mg dapat mengindikasikan penyakit ginjal dini (mikroalbuminuria).

Dalam kondisi normal, glukosa tidak ada dalam urin, karena biasanya ginjal tidak menghilangkan zat berharga ini bagi tubuh. Glikosuria terjadi hanya ketika glukosa hadir dalam darah dalam jumlah berlebihan dan, tepatnya, ketika konsentrasinya (glikemia) melebihi 180 mg/dl (batas nilai reabsorpsi gula oleh ginjal). Nilai glukosa dalam urin yang dianggap normal adalah 30-90 mg: dalam urin 24 jam.

 pH urine normal berada di angka 4,5- 8,0 dengan nilai rata-rata 6,0. Sedangkan nilai pH urine netral adalah 7,0. PH urine dinyatakan asam saat berada di bawah angka 5,0, dan dinyatakan basa saat berada di atas angka 8,0. Meski memiliki patokan nilai, setiap laboratorium memiliki standar nilai normal tersendiri yang tidak akan jauh berbeda dari nilai yang telah disebutkan.

Salah satu faktor yang memengaruhi kadar pH urine adalah pola makanan. Jika pH-nya di bawah normal, seseorang akan memiliki risiko tinggi mengidap batu ginjal. Jika pH urine berada di angka yang tidak normal, hal tersebut menunjukkan adanya penyakit: asidosis, yaitu yaitu kondisi yang terjadi saat kadar asam dalam tubuh sangat tinggi. Dehidrasi, yaitu kondisi yang terjadi saat tubuh kekurangan cairan di dalamnya. Diabetes ketoasidosis, yaitu komplikasi diabetes yang disebabkan oleh tingginya produksi asam darah tubuh.

D.      Evaluasi

1.      Analisis lah kenapa perlu dilakukan pemeriksaan urin pada orang yang diabetes dan batu ginjal?

2.      Analisislah kenapa kandungan urin tiap orang beda-beda?

Jawab

1.      Karena penyakit diabetes dan batu ginjal dapat diidentifikasi dari kandungan urine. Diabetes dapat diidentifikasi dari kandungan glukosa yang tinggi pada urine yang diukur menggunakan reagent strip urine. Cara termudah mengindikasi penyakit diabetes adalah dengan melihat banyaknya semut yang mengerubungi urine. Sedangkan batu ginjal adalah rasa sakit saat buang air kecil, dan pada urine terdapat darah.

2.      Perbedaan warna urine disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tingkat konsumsi air, pengaruh makanan dan minuman yang dikonsumsi, karena obat-obatan yang diminum, kondisi fisiologis tubuh, serta mengindikasikan adanya kelainan atau penyakit dalam tubuh.


 

BAB V

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Perbedaan warna pada beberapa sample urine disebabkan oleh jumlah kosentrasi air dalam urine. Semakin banyak kosentrasi air, maka akan semakin jernih warna urine. Sebaliknya, semakin sedikit kosnetrasi air, maka akan semakin pekat warna urine. Selain warna pada urine, perbedaan buih pada urine juga terjadi. Penyebabnya adalah banyaknya protein dalam urine. Semakin banyak kadar protein, maka akan semakin banyak buih pada urine. Sebaliknya, semakin sedikit kadar protein, maka akan semakin sedikit buih dalam urine.

Selain karena perbedaan kosentrasi air, perbedaan warna urine juga disebabkan oleh beberapa faktor seperti pengaruh dari makanan yang dikonsumsi, obat-obatan yang diminum, kondisi tubuh serta indikasi terjadinya gangguan atau penyakit dalam tubuh.

Pengindikasian gangguan atau penyakit dalam tubuh bisa diamati dari warna urine. Namun, pengamatan makrospik dari warna tersebut tidak bisa sepenuhnya memberikan keterangan pasti hanya terbatas pada dugaan sementara. Karenanya perlu dilakukan pengujian lebih lanjut oleh ahlinya dan dengan alat yang memadai.         

B.       Saran

Untuk kakak-kakak Co. Asisten, bersabarlah dalam mengajari adik tingkatnya yang belum paham cara membuat laporan yang baik dan benar. Ketika praktikum jelaskanlah materinya dengan jelas agar kami bisa paham dengan apa yang dipelajari.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

            Basoeki, Soedjono. 2017. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta:

Depdikbud.

Dafriani, Ns. Putri. 2019. Buku Ajar Anatomi & Fisiologi untuk Mahasiswa

Kesehatan. Padang: CV. Berkah Prima.

Raimundus Chalik. 2016. Anatomi Fisiologi Manusia. Jakarta: Pusdik SDM

kesehatan,

            Rifkatul Mukarramah, dkk. 2018. STUDI HASIL PEMERIKSAAN

PROTEIN URIN SEGERA PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH MENGGUNAKAN ASAM SULFOSALISILAT DI RSU WISATA UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR. Jurnal Media Laboran. Volume 8, Nomor 1. Hal: 21-26

            Siti Afraghassani. 2019. GLUTIC. RANCANG BANGUN ALAT

PENDETEKSI GLUKOSA URIN BERBASIS TEKNOLOGI SENSOR SERAT OPTIK UNTUK DIAGNOSIS DINI DIABETES. Jurnal Penelitian dan Penalaran. Volume 6, Nomor 1. Hal: 27-38

Dafriani, Ns. Putri. 2019 Buku Ajar Anatomi & Fisiologi untuk Mahasiswa

Kesehatan. Padang: CV. Berkah Prima.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar