MAKALAH
GENETIKA
LANJUT
Ekspresi
Kelamin Pada Makhluk Hidup
Disusun oleh:
Kelompok IV
1.
Bunga Adeliana Lestari (190104002)
2.
Sudianto (190104013)
3.
Amalia Anisa Erfan (190104021)
JURUSAN
PENDIDIKAN IPA BIOLOGI
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN (FTK)
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI (UIN)
MATARAM
2022
PEMBAHASAN
A. Definisi
Perkelaminan Pada Makhluk Hidup
Pada makhluk hidup
ditemukan berbagai cara reproduksi, tetapi pada dasarnya ada dua macam, yaitu
aseksual dan seksual. Ada organisme yang selama hidupnya hanya menggunakan satu
cara reproduksi, ada pula yang melakukan pergiliran cara reproduksi. Contoh
reproduksi aseksual adalah pembelahan sel dan pembentukan tunas, sedang contoh
cara reproduksi secara seksual adalah penyerbukan dan perkawinan. Reproduksi
aseksual akan menghasilkan individu baru yang secara genetik sama dengan
individu induk karena semua materi genetik berasal dari sel induk yang sama,
perbedaan hanya terjadi bila ada mutasi. Pada reproduksi seksual individu baru
menerima informasi genetik dari dua individu yang berbeda, secara genetik lebih
menarik untuk dibahas sebab akan muncul kombinasi genotip baru yang menyebabkan
munculnya variasi fenotip.
Pada organisme yang
melakukan reproduksi seksual dikenal adanya perbedaan jenis kelamin yang secara
umum disebut jantan dan betina, atau lelaki dan perempuan. Munculnya individu
dengan jenis kelamin yang berbeda disebabkan oleh berbagai faktor seperti
faktor genetik, dan faktor lingkungan. Perbedaan jenis kelamin secara genetik dapat
disebabkan oleh setidaknya dua hal, yaitu adanya kromosom yang berbeda, atau
ada gen yang berbeda. Kromosom yang berbeda (heteromorfik) antar jenis kelamin
seperti misalnya pasangan kromosom X dan Y biasanya disebut kromosom kelamin,
sedangkan kromosom yang sama terdapat pada setiap jenis kelamin disebut
autosom. Munculnya jenis kelamin tertentu selain disebabkan oleh adanya
kromosom kelamin pada beberapa organisme juga disebabkan oleh gen (atau
gen-gen) yang terdapat pada autosom atau interaksi antar keduanya.
Kromosom adalah molekul
seperti benang yang membawa informasi herediter untuk segala hal mulai dari
tinggi badan hingga warna mata. Kromosom dibuat dari protein dan satu molekul
DNA yang berisi instruksi genetik suatu organisme yang diturunkan dari orang
tua. Pada manusia, hewan, dan tumbuhan, sebagian besar kromosom diatur
berpasangan di dalam inti sel. Manusia memiliki 22 pasang kromosom ini, yang
disebut autosom.
Fungsi kromosom salah
satunya adalah berperan penting dalam proses sel membelah diri. Tujuannya untuk
mengganti sel lama yang rusak dengan yang baru. Selama proses pembelahan sel
ini, penting agar DNA tetap utuh dan merata di antara sel-sel. Di sinilah peran
penting dalam kromosom.
Materi genetik memegang
peranan penting dalam proses pewarisan sifat. warna kulit, bentuk hidung, atau
bahkan jenis penyakit yang dimiliki tidak serta-merta hadir di dalam tubuh.
Materi genetik dari ayah dan ibu akan bergabung dalam proses fertilisasi. Oleh
karena adanya penggabungan materi genetik inilah muncul karakteristik yang
mirip dengan ayah dan karakteristik yang mirip dengan ibu. Materi genetik
tersebut yaitu, kromososm, gen, DNA, dan RNA.
B. Terbentuknya
Kromosom X dan Y
Perkembangan kelamin pada
Mammalia terbagi menjadi dua proses, yaitu diferensiasi kelamin somatis atau
sekunder dan diferensiasi kelamin pada sel germinal. Konstitusi kromosom dalam
inti adalah yang pertama kali menentukan diferensiasi kelamin dari gonad awal.
Apabila kemudian terbentuk testis, maka akan disekresikan hormon testosteron.
Apabila ovarium yang terbentuk, maka tidak adanya testosteron memungkinkan
sel-sel somatik berkembang dalam jalur betina. Pembentukan testis dikendalikan
gen-gen yang terdapat pada kromosom Y sehingga jenis kelamin Mammalia
ditentukan oleh kromosom Y.
Saat ini pada kromosom Y
dari tikus (mice) sudah ditemukan gen atau perangkat gen yang mengendalikan
suatu ciri dominan yang disebut Sex-reversed (Sxr) trait yang
menyebabkan zigot tikus bergenotip AAXX tumbuh dan berkembang menjadi individu
tikus berfenotip kelamin jantan lengkap dengan testis, sekalipun tidak
mengalami spermatogenesis.
Berkenaan dengan
perkembangan testis, pada kromosom Y manusia terdapat gen TDF (Testis
Determining Factor) yang bertanggung jawab terhadap perkembangan testis dan
diketahui mengkode semacam protein yang diduga mengatur ekspresi gen lain. Gen
lain yang juga dinyatakan ikut bertanggung jawab yaitu gen H-Y yang terpaut
kromosom kelamin Y dan dinyatakan ikut bertanggung jawab terhadap diferensiasi
testis maupun spermatogenesis. Selain itu, gen Tfm+ yang terpaut pada kromosom
kelamin X (Individu jantan) mengendalikan pembentukan suatu protein pengikat
testosteron pada sitoplasma dari semua sel (jantan maupun betina).
Pada tahun 1891 H.
Henking menemukan bahwa suatu struktur inti tertentu dapat ditemukan (dilacak)
selama spermatogenesis serangga tertentu. Separuhnya sperma menerima struktrur
tersebut sedangkangkan separuhnya tidak menerimanya dan struktur tersebut
diidentifikasi sebagai “X-body”. Pada tahun 1902 C. E. McClung membenarkan
observasi Henking atas dasar obserasi sitologis terhadap berbagai spesies
belalang, dan ditemukan pula bahwa sel-sel soma pada indivudu jantan berbeda
dengan sel-sel soma pada individu betina. Kemudian pada awal abad ke 20 E. B.
Wilson dkk., menyatakan bahwa X body yang dilaporkan oleh Henking merupakan
suatu kromosom yang menentukan kelamin. Sejak saat itu X body tersebut dikenal
dengan kromosom kelamin atau kromosom X.
E. B Wilson menemukan
bahwa susunan kromosom yang lain pada Lygaeus turcicus. Pada serangga ini
jemlah kromosom yang sama ditemukan pada sel-sel dari kedua macam kelamin. Akan
tetapi, kromosom homolog dari nkromosom X ternyata lebih kecil ukurannya dan
disebut kromosom Y. Zigot XX akan menjadi individu betina, sedangkan zigot XY
akan menjadi individu jantan.
Asal mula evolusioner
kromosom kelamin primitif berkaitan erat dengan evolusi kelamin terpisah yang
berlatarbelakang genetik. Pola transisi paling sederhana, dari keadaan kelamin
tergabung menuju kepada suatu keadaan kelamin terpisah sempurna, adalah melalui
kejadian mutasi pada dua lokus. Salah satu lokus itu adalah f, yang mengontrol
fungsi betina dan m yang mengatur lokus jantan. Mekanisme pada dua lokus
diikuti dengan roses seleksi dan pengurangan rekombinasi akan memunculkan
kromosom proto X maupun kromosom proto Y. Setelah itu akan terjadi proses
seleksi lebih lanjut yang berkenaan dengan seleksi alela-alela yang
menguntungkan pada individu jantan tetapi merugikan individu betina, yang akan
mengarah pada diferensiasi genetic selanjutnya antara kedua kromosom kelamin.
C. Ekspresi
Kelamin pada Makhluk Hidup
Pada dasarnya pengontrol
segala ekspresi kelamin dan yang menentukan jenis kelamin adalah gen.
Pengaturan gen ini dilakukan melalui interaksi gen-gen oleh satu buah, satu
pasang, maupun banyak pasangan gen, gen tergolong alela ganda maupun non ganda
yang berada dalam kromosom kelamin Y maupun bukan, untuk mempengaruhi baik
genotip maupun fenotip ekspresi kelamin. Ekspresi gen apapun dalam perkelaminan
juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama dalam interaksi gen-gen yang
bertanggung jawab pada fenotip kelamin pada makhluk hidup.
Ekspresi kelamin tidak
hanya dimiliki oleh organisme eukariotik saja namun juga organisme prokariotik.
Ekspresi kelamin pada organisme prokariotik misalnya pada bakteri Escheria
coli. Perkelaminan pada prokariotik, sel-sel kelamin jantan dan betina tidak
didasarkan pada karakter morfologi namun dari ada tidaknya kromososm kelamin
yang tidak lazim atau faktor F yang merupakan DNA untaian ganda sirkuler. Jika E.
coli memiliki faktor F (F+) maka berkelamin jantan, sedangkan jika tidak
memiliki faktor F (F–) maka berkelamin betina. Sel berkelamin jantan (F+) akan
mentransferkan gen kedalam sel berkelamin betina (F–) melalui proses konjugasi,
transfer ini menyebabkan terjadi pindahnya satu untaian DNA ke sel berkelamin
betina dan berreplikasi melalui Rolling circle replication. Sel berkelamin
jantan (F+) yang faktor F-nya terintegrasi dengan kromosom utama disebut sel
Hfr (High frequency of recombination). Sehingga sel berkelamin betina bisa saja
berubah berkelamin jantan.
Sedangkan ekspresi kelamin pada organisme eukariotik
di antaranya sebagai berikut:
|
No. |
Jenis |
Kontrol jenis dan
ekspresi kelamin |
|
1. |
Tumbuhan tingkat rendah: Chlamydomonas |
Secara genetik dibedakan
kelamin/mating type + dan – yang ada pada suatu kontrol gen. Sifat jantan dan
betina ini relatif dan bersangkut paut dengan kerja hormon. |
|
2. |
Khamir: Saccharomyces
dan Neurospora |
Kelamin dibedakan menjadi tipe +
dan – atau mating a (spesifikasi alel MAT α dan α (spesifikasi MAT α).
Kelamin ini termanifestasi bila salah satu alela menempati lokus MAT. |
|
3. |
Jamur: Basidiometes |
Hetrotalitik kelamin dipengaruhi
oleh 1 pasang faktor Aa dan 2 pasang faktor AaBb pada kromosm yang berbeda. |
|
4. |
Lumut: Marchantia
polimorpha |
Kromosom X dan Y terpisah
meiospora, X menjadi gamet betina dan Y menjadi gamet jantan. Dan XY menjadi
sporofit |
|
5. |
Tumbuhan berumah satu
dan dua |
Pada jagung terdapat
gen mutan ba dan ts, bila homozigot baba jagung jantan, bila homozigot tsts
jagung betina. Hal ini dikendalikan oleh 2 gen pada lokus yang berlainan.
Pada tumbuhan berumah dua secara
genetik kelamin dikendalikan oleh gen pada satu lokus saja misalnya
ditentukan oleh kombinasi pasangan 3 alela aD, a+, ad |
|
6. |
Marga Melandrium |
Jenis kelamin juga bersangkut paut
dengan adanya kromosom kelamin yaitu dengan keseimbangan antara kromosom X, Y
dan autosom. Kromosom X dan autosom betina, kromosom Y jantan. |
|
7. |
Hewan invertebrata: Paramecium
bursaria |
Punya 8 kelamin dengan kemampuan
berkonjugasi dengan satu dari ke 7 tipe lain |
|
8. |
Ophryotrocha |
Kelamin terpisah, tipe kelamin
ditentukan oleh ukuran, ketika masih kecil berkelamin jantan, dan ketika
tumbuh besar berkelamin betina karena perubahan lingkungan gonad |
|
9. |
Cacing tanah |
Hermafrodit, terdapat 2 gonad yang
terpisah segmen |
|
10. |
Helix |
Hermafrodit, terdapat 1 gonad
penghasil telur/sperma |
|
11. |
Crepidula |
Kelamin bertahap, tahap jantan à
tahap perantara à tahap betina |
|
12. |
Lygaeus turcicus |
Punya kromosom kelamin X dan Y, XX
maka betina, XY maka jantan |
|
13. |
Hymenoptera |
Telur dibuahi individu berkelamin
betina diploid. Sedangkan telur tidak dibuahi berkelamin jantan haploid. Pola
ekspresi ini adalah haplo-diploidy, tidak diperankan oleh
kromosom. Terdapat pula gynandromorph. |
|
14. |
Drosophila melanogaster |
Kromosom
X dan Y. Memiliki mekanisme perimbangan kromosom X, Y dan A (autosom). Jika
rasio AA>XY maka jantan, AA<XX maka betina, AA=XX maka intersex. Selain
itu juga melalui ekspresi beberapa gen yaitu gen Sx1 (Sex lethal), gen
dsx (double sex), dan gen tra (transformer). 1.
Kromosom X memicu gen Sx1 betina 2.
Kromosom autosom àmemicu gen Sx1
jantan 3.
Gen dsx: mengubah jantan/betina
menjadi intersex 4.
Gen tra: mengubah betina menjadi
individu jantan steril. Gen ini dipengaruhi suhu.
|
|
15. |
Hewan Vertebrata: Pisces |
a.
Perkelaminan gonochoristik yaitu
ada gonad yang belum berdiferensiasi (sebagian menjadi ovarium-sebagian
testis) dan ada yang sudah berdiferensiasi (menjadi ovarium/testis). b.
Ada tipe hermaproditisma (sinkronous,
protogynous, protandrous) c.
Ekspresi kelamin kromosom ZZ-ZW
pada kelompok ikan yang komposisi telurnya menentukan kelamin turunan d.
Kromosom-kromosom heteromorfik.
Jantan berupa XO, XY dan XXY sedangkan betina berupa ZW. |
|
16. |
Amphibia |
a.
Kromosom kelamin tipe XX-XY
(heterogami jantan) atau ZZ-ZW (heterogami betina) b.
Ada yang tidak memiliki kromosom
kelamin. |
|
17. |
Reptilia |
a.
Heterogametik betina (ZW) dan
heterogametik jantan (ZZ). b.
Ekspresi kelamin beberapa reptil
dipengaruhi suhu. Suhu tinggi betina, suhu rendah jantan. |
|
18. |
Aves |
Kromosom kelamin XX atau ZZ aves
jantan dan XO, ZW, ZO betina. Hal ini bergantung keseimbangan. |
|
19. |
Mamalia |
Secara genetik
penentuan kelamin melalui: a.
Differensiasi kelamin sekunder oleh
gonad b.
Differensiasi kelamin primer oleh
gonad Beberapa
gen yang berperan dalam ekspresi kelamin: Gen
Sxr (Sex-reversed trait), gen TDF (Testis Determining Factors)
untuk perkembangan testis, Gen HY yang terpaut kromosom Y untuk
spermatogenesis, gen Tfm terpaut kromosom X |
Kromosom
pada dasarnya bukanlah yang menentukan jenis kelamin terwujud pada makhluk
hidup. Yang benar adalah bahwa gen atau perangkat gen pada kromosom kelamin Y
yang menentukan jenis kelamin manusia. Kromosom kelamin sama saja dengan
autosom, sama-sama membawa faktor keturunan. Ekspresi kelamin makhluk hidup
dikendalikan oleh gen-gen yang saling berinteraksi. Keseimbangan tertentu dalam
interaksi gen itu bertanggung jawab atas ekspresi kelamin makhluk hidup.
Ekspresi gen-gen yang interaksinya bertanggung jawab atas fenotip kelamin
makhluk hidup, dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan. Ekspresi gen-gen itu
tidak bebas dari faktor lingkungan (fisikokimiawi) internal maupun eksternal.
DAFTAR PUSTAKA
Corebima, A. D. 2013.
Genetika
Kelamin. Surabaya: Airlangga Univesity Press
Irawan,
Bambang. 2019.
Genetika.
Surabaya: Airlangga Univesity Press
Suryo. 2016. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar