Buku Harian Nana Buku Harian Seorang Istri

Isi buku harian Nana



Nana adalah tokoh utama wanita di sinetron Buku Harian Seorang Istri. Sesuai dengan judulnya, sinetron ini kerap menayangkan tokoh Nana tengah menulis buku harian. Isi buku hariannya bercerita tetang suaminya bernama Dewa. Semua perasaan sedih yang dirasakan terhadap suaminya itu dia tuliskan. Mas Dewa, begitu panggil Nana pada sang suami. 

Berikut isi buku harian Nana.

Baca juga: https://vandalombokensis.blogspot.com/2021/02/sinopsis-buku-harian-seorang-istri.html


Aku seorang wanita. Aku seorang anak. Aku seorang kakak. Dan insya Allah, seperti yang diimpikan oleh mereka, aku akan segera menjadi seorang istri. Untuk itu, setiap malam aku memanjatkan doa semoga aku akan menjadi suami yang baik untuk suamiku. Sebab dunia ini adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang soleha. 

Calon suamiku. Insya Allah, aku akan bisa jadi istri yang terbaik untukmu. Imamku!

                                                                        ***

Kadang aku tidak bisa mengerti. Mengapa aku menjadi wanita bodoh seperti sekarang ini. Jadi mungkin wajar, kalau aku juga tidak bisa mengerti, menagapa orang-orang di sekitarku mau menjadi diri mereka yang seperti itu 

Manusia memang penuh misteri. Begitu juga dengan suamiku, Mas Dewa. Dia jahat tapi baik. Dia baik tapi jahat. 

Mungkin ada banyak kesedihan yang Mas Dewa alami. Dan sebagai istrinya, aku berusaha mengerti. Aku berusaha bertahan.

***

Hari ini, dengan tanpa beban, Mas Dewa mengatakan bahwa wanita lain adalah kekasihnya. Dan wanita itu meminta kejelasan kepada Mas Dewa di depan telingaku. 

Mas Dewa dan perempuan itu, menganggap aku adalah penganggu dan penghalang hubungan mereka.  Apa yang harus aku tangisi, pernikahan kami memang tidak didasari cinta. Pernikahan ini hanya pernikahan di atas kertas. 

Dan mungkin aku juga salah. Aku menikah dengan mas Dewa tanpa tahu masa lalunya seperti apa. Tapi, biar bagaimanapun, akad itu sudah terucap dan ini adalah permintaan mendiang Bapak. Apa aku salah, kalau aku berniat untuk coba terus memperjuangkan pernikahan ini? Atau justru seharusnya menyerah pada pernikahan ini, ya, Allah?

***

Aku sadar, bukan cinta yang menjadi dasar pernikahan aku dan Dewa. Bahkan, bukan aku dan Mas Dewa yang menginginkan pernikahan ini. Tapi kita tidak bisa menolak apa yang sudah menjadi keinginan Tuhan.

Mungkin ini bukan hanya yang terbaik. Tapi aku yakin semua akan menjadi indah kalau kita bisa menikmati prosesnya dengan ikhlas. 

Aku akan berusaha membuat pernikahan ini menjadi keputusan yang terbaik, yang berakhir dengan indah.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar